Saturday, January 19, 2013

SALAH PILIH

Liburan akhir tahun 2012 kemarin diisi dengan nyortir buku2 yang ada di rumah, lumayan banyak nemu barang antik :D, seperti buku catatan waktu SD, rapor SD, rapor SMP, n rapor SMA.
Dari sekian banyak hasil shortiran ada satu yang menyita perhatian saya, yaitu tugas Bahasa Indonesia waktu SMA. Tugas yang dibuat menggunakan mesin ketik, karena pada tahun 1997 komputer masih barang langkah. Komputer hanya bisa ditemui disekolah dan itupun hanya 1 x seminggu.
Karena tugas ini sangat berkesan bagi saya, kayaknya bagus juga kalo diposting disini, secara dah lama gak ngisi blog ini. Tugas Bahasa Indonesia tentang analisa karya sastra, saya ingat guru yang mengajar saya dulu namanya Pak Geger Prayitno (apa kabar beliau sekarang y?). Gara2 bikin tugas ini saya jadi baca buku antropologi anak jurusan IPS :D
Ini dia hasil analisa anak kelas 3 SMA zaman dahulu kala (tahun 1997). Ditulis ulang sesuai dengan titik koma yang ada di skripnya :D kecuali komen - komen yang ditulis didalam kurung y :D hehehe

ANALISIS SECARA EKSTRINSIK NOVEL 'SALAH PILIH' KARYA NUR St. ISKANDAR
Disusun oleh : Saya sendiri :D
Kelas: 3IPA1

SMU Xaverius 3 Palembang
Jl. Kol. Atmo No 132 Palembang
Tahun 1997


Kata Pengantar:
Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa maka analisis novel ini dapat diselesaikan. Cerita ini diambil dari novel karya Nur Sutan Iskandar yang berjudul "Salah Pilih" yang dianalisis dari segi unsur ekstrinsik sosial budaya. Novel ini menceritakan tentang adat istiadat suku Minangkabau. Analisis disusun untuk memenuhi tugas ko-kurikuler Bahasa Indonesia dari Drs. Geger Prayitno.
Mungkin disana sini masih banyak kekurangan, saya selaku penyusun mohon maaf atas kekurangan itu dan saya juga mengucapkan terima kasih kepada Guru Bahasa Indonesia Pak Geger Prayitno atas bimbingannya dan juga kepada teman - teman atas saran dan kritiknya.

Palembang, 23 Agustus 1997

Penyusun

#note : ternyata bahasa saya waktu dulu kok agak janggal y :D hihihihihi

DAFTAR ISI:
Kata Pengantar
Daftar Isi
Landasan Teori
Analisis
Kesimpulan
Sinopsis
Daftar Pustaka


Landasan Teori:
Sistem kekerabatan disuku Minangkabau sangat unik, sebab jarang ada sama (red: kok janggal y kalimat yg ini :D), sistem matrilineal yang mempunyai arti bahwa garis keturunan ditarik dari garis ibu atau pihak perempuan. Dalam keluarga suku Minangkabau peranan suami kurang, bahkan tidak mempunyai kekuasaan dalam keluarganya. Tanggung jawab keluarga dipegang oleh saudara istrinya yang laki - laki, yang disebut mamak. Jadi seorang suami tidak memiliki kekuasaan atas anak dan istrinya, tetapi mungkin dia juga menjadi mamak dikeluarga asalnya. Seorang ayah dalam masyarakat Minangkabau termasuk keluarga lain dari keluarga istri dan anak - anaknya, sama halnya anak laki - laki termasuk keluarga lain dari ayahnya (red: naaah loooh). Orang - orang Minangkabau yang merantau jauh dari tempat asalnya, tidak mengikuti aturan adat seperti itu, melainkan mengikuti sistem parental.
Perkawinan dalam masyarakat Minangkabau tidak mengenal mas kawin. Keluarga pihak pengantin perempuan memberi kepada keluarga pengantin laki - laki sejumlah uang atau barang sebagai alat untuk menjemput pengantin laki - laki agar mau mengawini perempuan tadi. Uang atau barang seperti itu disebut uang jemputan. Besarnya uang jemputan bergantung pada tinggi rendahnya status laki - laki. Yang penting dalam perkawinan masyarakat Minangkabau ialah pertukaran benda lambang antara dua keluarga yang bersangkutan berupa cincin atau keris. Sesudah pekawinan, suami menumpang ditempat istrinya. Bila terjadi perceraian suami harus meninggalkan rumah istrinya dan anak - anaknya hasil dari perkawinan itu akan tinggal bersam dengan ibunya. Dalam masyarakat Minangkabau tidak ada larangan seseorang mempunyai istri lebih dari satu. Orang - orang dengan kedudukan sosial tertentu banyak yang melakukan poligami (red:#tepokjidat).
Sesuai dengan garis keturunan yang matrileneal dan pola menetap sesudah menikah yang uxirilokal, maka harta pusaka juga diturunkan melalui garis ibu dan yang berhak menerimnya adalah anggota perempuan dari sebuah keluarga. Anggota laki - laki darisebuah keluarga matrilineal sebenarnya tidak berhak terhadap harta pusaka, mereka hanya mempunyai kewajiban untuk menjaga harta itu, sehingga harta itu tidak menjadi hilang dan benar - benar memberikan kegunaan bagi kaum kerabatnya. Sistem waris ini seringkali menimbulkan pertengkaran antara anak - anak dan kemenakan, yaitu antara yang mengikuti aturan agama islam dengan aturan adat.
Desa di Minangkabau disebut Nagari, yang terdiri dari dua bagian, yaitu daerah nagari dan daerah taratak. Daerah Nagari ialah daerah kediaman utama dan dianggap sebagai pusat desa. Daerah taratak dianggap sebagai daerah hutan dan ladang, yaitu daerah diluar desa. Daerah nagari dalam sebuah desa biasanya ditandai atau ditentukan oleh adanya sebuah masjid, balai adat, dan sebuah pasar. Sebagian besar penduduk tinggal di daerah nagari dan hanya sewaktu - waktu mereka tinggal atau pergi ke taratak.
Keluaraga - keluarga Minangkabau biasanya tinggal dirumah besar atau rumah gadang. Apabila kerabat - kerabat itu semakin besar, maka didirikanlah rumah kerabat baru disekitar rumah yang lama. Kerabat - kerabat yang semakin besar itu kemudian membentuk satu kesatuan yang disebut kampung dan dipimpin oleh penghulu andiko yang bergelar datuk. Tiap - tiap kampung kemudian membentuk satu kesatuan yang disebut suku, dipimpin oleh seorang penghulu suku. Nama - nama suku didasarkan atas jumlah kampung yang ada pada suku tersebut. Daerah nagari dipimpin oleh seorang pucuk nagari.


ANALISIS:
Sistem kekerabatan yang dianut oleh masyarakat Minangkabau adalah sistem matrilineal yaitu garis keturunan ditarik dari garis ibu dan yang berhak menerima harta pusaka adalah anak perempuan.

"Perkataan Rangkayo benar sekali. Oleh karena kakak Mariati tidak beranak perempuan, maka Asnah inilah diambil jadi anak angkatnya. Akan tetapi kami tidak menyangka dia anak angkat lagi. Ia anak kandung kami, semarak rumah gedang. Dan karena ibunya belahan kakak Mariati juga, Asnah inilah kelak yang berhak menerima pusaka dirumah gedang itu." (N.St.Iskandar, 1986:79)

Tanggung jawab keluarga dipegang oleh saudara istri yang disebut mamak, yang menanggung kemenakannya bukan ayah.
"Jadi sama saja, sama - sama bertanggungan. Meskipun ia tidak menanggung anaknya, tetapi ia harus menanggung kemenakannya, malah kadang - kadang kemenakan itu lebih banyak dari anak sendiri." (N.St.Iskandar, 1986:204)

Dalam perkawinan adat Minangkabau, keluarga pengantin perempuan memberi sejumlah uang kepada pengantin laki - laki agar mau mengawini perempuan tadi, yang disebut uang jemputan.
"Di hadapan mempelai itu berjalan tiga empat perempuan, yakni orang menjemput. Seorang diantaranya menjunjung cerana, yang telah disalin isinya (alat penjemput selengkapnya) di rumah orang tua mempelai tadi itu." (N.St.Iskandar, 1986:103)
Yang penting dalam perkawinan masyarakat Minangkabau ialah pertuakaran benda lambang antara dua keluarga yang bersangkutan berupa cincin atau keris.
"Adapun keris itu tanda dari Ibu Mariati, bahwa ia sudah menerima permintaan Rangkayo Saleah, yaitu Saniah sudah diterima menjadi tunangan Asri. Keris itupun ditimang - timang oleh Rangkayo Saleah beberapa lamanya, kemudian diberikan kepada lakinya." (N.St.Iskandar, 1986:70)
Sesudah perkawinan, si suami menumpang di tempat istrinya. Bila terjadi perceraian si suami harus meinggalkan rumah istrinya dan anak - anaknya dari hasil perkawinan itu akan tinggal bersama dengan ibunya.
"Adapun Asri pada malam itulah mulai pulang kerumah istrinya yang dianat seorang dua kawannya dengan diam - diam, hingga tangga saja." (N.St.Iskandar, 1986:105)
Di dalam masyarakat Minagkabau tidak ada larangan sesorang mempunyai istri lebih dari satu. Orang - orang dengan kedudukan sosial tertentu banyak melakukan poligami.
"Sudah gaharu cendana pula. Bukantah beliau dikutak - katikan istrinya, oleh Rangkayo Saleah? Dibajakkan. Seorang Penghulu yang tak berani menduai istri, bukantah telah melanggar adatnya?" (N.St.Iskandar, 1986:174)


Kesimpulan:
#ditulis gak y, secara ini hasil analisa anak SMA, sepertinya tidak usah y untuk menghindari dari hal - hal yang tak terduga dan tak diingini .... hehehehe


SINOPSIS:
Di desa Sungai Batang terdapat sebuah keluarga yang mendiami rumah Gadang dan sangat dihormati, yang mempunyai seorang anak laki - laki bernama Asri dan anak angkat perempuan bernama Asnah. Mereka berdua dibesarkan bersama sejak kecil. Asri disekolahkan ke Batavia sedangkan Asnah tinggal dirumah bersama Ibu Mariati dan Makciknya Sitti Marliah. Karena lama tidak bertemu dan ketika Asri pulang, perasaan persaudaraan itu berubah menjadi perasaan cinta dua insan yang tidak disadari oleh Asri. Asnah seorang gadis yang lemah lembut dan baik budi bahasanya, sangat disayang dalam rumah gadang itu.
Ketika Asri bertunangan dengan seorang gadis bangsawan, hati Asnah hancur dan kecewa tapi demi kasihnya kepada orang yang dicintainya, ia menahan semua perasaannya. Dan ketika Asri menikah dengan gadis bangsawan yang bernama Saniah, kerukunan dirumah gadang itu hancur karena sikap Saniah yang berubah dari seorang gadis yang lemah lembut menjadi seorang wanita yang angkuh, sombong, dan tamak akan harta kekayaan. Ternyata ia menikah dengan Asri itu untuk mendapatkan kekayaan Ibu Mariati yang secara keturunan tidak mempunyai anak perempuan sebagai ahli waris, untuk mendapatkan itu ia bermaksud menundukkan Asri suaminya dan mengusir Asnah sebagai pewaris Ibu Mariati dan Sitti Marliah yang selalu membela Asnah. Untuk melampiaskan kekesalannya ia selalu menghina Asnah tetapi Asnah tidak menceritakan kepada siapapun agar kerukunan dirumah gadang tetap terjamin.
Ketika Ibu Mariati meninggal tingkah laku Saniah menjadi - jadi sehingga Asri tidak mempedulikannya lagi. Pada waktu ada orang yang ingin meminang Asnah untuk menjadi istrinya tetapi Asnah menolak, ini menyebabkan Saniah marah, padahal ia menginginkan Asnah pergi dari rumah itu. Mendengar Asnah menolak lamaran orang Asri menjadi sangat gembira, pada waktu itu ia mengetahui perasaannya kepada Asnah. Mengetahui hal itu Saniah menjadi marah dan mengusir Asnah. Setelah Asnah pergi, dirumah gadang itu menjadi sepi karena kedua suami istri itu saling tidak mempedulikan, karena hal itu Saniah meminta cerai kepada Asri. Tetapi Asri tidak melakukannya untuk menjaga wibawanya terhadap masyarakat sekitarnya.
Pada suatu hari datang utusan dari ibu Saniah untuk menyuruh Saniah pulang kerumah kedua orang tuanya. Sesampai disana ia diajak ibunya pergi ke Padang. Karena hari sudah siang maka ibunya menyuruh spir mempercepat laju mobil agar tidak ketinggalan kereta. Walaupun Jalan banyak tikungannya, mobil yang mereka tumpangi tetap melaju kencang. Mobil tersebut mengalami kecelakaan, Ibu Saniah meninggal seketika sedangkan Saniah meninggal dirumah sakit. Diperjalanan inilah Saniah menyesal atas tindakannya terhadap suaminya dan anggota keluarga rumah gadang itu.
Sepeninggal istrinya, Asri sering dilamar oleh orang - orang kaya tetapi ia menolak semua lamaran itu karena ia sangat mencintai Asnah. Pada suatu hari ia berdebat dengan seorang penghulu tentang pernikahannya dengan Asnah, penghulu itu melarang pernikahan Asri dan Asnah karena melanggar adat Minangkabau. Tetapi Asri tetap pada pendiriannya yaitu untuk menikahi Asnah. Setelah semua pekerjaan dikantor ia serahkan kepada orang lain dan harta kekayaannya kepa Sitti Marliah untuk diurus maka ia pergi ke rumah Ibu Mariah tempat Asnah tinggal, untuk menikahi Asnah dan keesokan harinya mereka berdua pergi ke Batavia. Mendengar pernikahan mereka berdua, masyarakat Minangkabau mengutuk pernikahan itu. Setahun kemudian, Ketua adat Sungai Batang mengirim surat kepada Asri untuk menyuruhnya pulang agar menggunakan kemmapuannya membangun kampung halaman. Di Sungai Batang, mereka disambut dengan meriah, kemudian Asri dan Asnah diizinkan untuk menyelenggarakan pesta perkawinan secara adat Minangkabau.



DAFTAR PUSTAKA:
Sutan Iskandar, Nur. 1986. Salah Pilih. Jakarta : Balai Pustaka.
Drs. A. Yunan, dkk. 1996. Antropologi. Bandung : Angkasa



Demikianlah posting ini, sejak saat itu karena tugas ini saya menyukai karya sastra Pujangga Baru ;)

Share

0 komentar:

Ikuuuut yuuuuks ........