Bitcoin

Friday, August 6, 2010

Bahasa Serawai

Bahasa Serawai merupakan salah satu dialek lokal bahasa melayu (http://melayuonline.com). Dalam bahasa Serawai ada dua macam dialek, yaitu dialek “o” dan dialek au. Yang dikmaksud dengan dialek “o” ialah kata-kata yang pada umumnya berakhiran dengan “o” seperti ke mano “kemana’, Tuapo “apa”, dan sapo “siapa”. Dialek “o” ini dipakai dalam wilayah Kecamatan Seluma dan Kecamatan Talo.
Selanjutnya, yang dimaksud dengan dialek “au” ialah kata-kata yang pada umumnya berakhiran “au”, seperti ke manau “ke mana”, tuapau “apa”, dan sapau “siapa”. Dialek au ini dipakai dalam wilayah Kecamatan Pino dan Kecamatan Manna.
Bahasa Serawai “o”, yaitu mulai dari Marga Andelas (Kecamatan Seluma) sampai ke Marga semindang Alas (Kecamatan Talo). Jadi, secara administratif, bahasa Serawai yang diteliti ini mulai dari dusun Pekan Sabtu (Marga Andelas), kira-kira 13 km dari kota Bengkulu kearah Selatan sampai ke Dusun Pekan Markas (Marga Semindang Alas), kira-kira 119 km dari kota Bengkulu. Di dusun pekan Maras, yang merupakan perbatasan bahasa Serawai berdialek “o” dan au, sudah ada percampuran dialek “o” dan “au”. Sebagian penduduk memakai dialek “o” dan sebagian lagi memakai dialek “au”.
Pada umumnya bahasa Serawai dipakai antara keluarga Di dusun-dusun yang jauh dari kota besar, bahasa Serawai kadang-kadang dipakai juga dalam suasana dengan depati, pasirah, atau camat.
Di Dusun, Marga, Kecamatan yang jauh dari kota Bengkulu, orang Serawai memakai bahasa Serawai bila berbicara dengan orang yang baru dikenal. (misalnya Dusun Babatan, Marga Andelas) orang Serawai kadang-kadang memakai bahasa Melayu Bengkulu/ Indonesia bila berbicara dengan orang yang baru dikenal itu ternyata orang Serawai atau orang yang dapat berbicara dalam bahasa Serawai, barulah mereka memakai bahasa Serawai sebagai alat komunikasi.
Di Sekolah Dasar (SD) di dusun, ibu kota marga, kecamatan dan Kabupaten, bahasa Serawai digunakan sebagai bahasa pengantar di samping bahasa Indonesi. Di sekolah-sekolah lanjutan, bahasa Serawai tidak lagi dipakai sebagai bahasa pengantar.

Dalam masyarakat bahasa Serawai terdapat sastra lisan yang digolongkan atas dua golongan, yaitu prosa dan puisi. Yang digolongkan ke dalam prosa antara lain nandai, dan dongeng-dongeng. Nandai dalam bahasa Serawai ada dua macam Pengertiannya. Petama, dalam pengertian cerita rakyat biasa, misalnya nandai “Harimau Bersahabat dengan Kancil” dan nandai “Kura-kura Bersahabat dengan Beruk”. Nandai jenis ini ditubjukkan kepada anak-anak sebagai penghibur agar ia lekas tertidur. Kedua, nandai dalam pengertian cerita yang berisi unsur sejarah, misalnya nandai yang berisi sejarah peperangan Bengkulu dengan Aceh. Nandai jenis ini dituturkan oleh seseorang yang ahli dan ditujukan kepada orang-orang dewasa, sebagai pelipulara, misalnya jika ada anggota keluarga yang meninggal dunia. Oleh karena nandai jenis kedua ini berisi unsur sejarah, biasanya ia diturkan dalam waktu berjam-jam, kadang-kadang sampai semalam suntuk. Dongeng-dongeng yang dapat digolongkan kedalam bentuk sastra misalnya ialah dongeng-dongeng tentang keajaiban sesuatu tempat. Selanjutnya, yang tergolong kedalam bentuk puisi antara lain pantun, rejung, dundai, taliban, jampi, ucap, dan dindang.

*sumber :http://ratribayu.multiply.com

Share

0 komentar:

Ikuuuut yuuuuks ........