Friday, August 6, 2010

Sastra Serawai : Rejung

Rejung merupakan salah satu sastra lisan dari daerah Serawai. Seni Rejung, sangat terkenal di berbagai kalangan di daerah Serawai. Meskipun banyak orang yang belum tahu apa itu Rejung?
Rejung adalah salah satu kesenian yang bentuk dan sifatnya mirip dengan pantun. Perbedaannya terletak pada jumlah barisnya yaitu, terdiri dari sepuluh atau dua belas baris. Yang terdiri dari, lima baris sampiran dan lima baris isi. Atau enam baris sampiran dan enam baris isi bagi Rejung yang terdiri dari dua belas baris.

Definisi lain menyebutkan bahwa Rejung merupakan suatu sastra daerah yang berbentuk puisi yang terdiri dari dua bagian. Bagian pertama berupa sampiran dan bagian kedua berupa isi. Jumlah baris yang terdapat pada rejung adalah sepuluh sampai dua belas baris. Jika rejung itu terdiri dari sepuluh baris, maka lima baris pertama adalah sampiran dan lima baris terakhir adalah isi. Begitu juga sebaliknya, jika rejung tersebut terdiri dari dua belas baris, maka enam baris pertama disebut sebagai sampiran dan enam baris terakhir disebut sebagai isi.
Dengan demikian, Rejung merupakan sastra lisan daerah Serawai yang berbentuk puisi yang memiliki sepuluh sampai dua belas baris, yang terdiri dari sampiran dan isi. Dalam segi pembacaannya, rejung dibacakan dengan nada dan irama tertentu.
Dalam segi penulisan dan pembuatannya, Rejung memiliki aturannya sendiri. Setiap baris pertama dalam enam atau lima baris pada rejung itu, akan diambil dari dua kata terakhir dari baris kedua.
Misalnya, pada baris kedua, terdapat kata “Gedung Agung bekuto tinggi”, maka untuk baris pertamanya adalah “Bekuto tinggi”. Sehingga penulisannya menjadi:
Bekuto tinggi
Gedung Agung bekuto tinggi
(Dan seterusnya….)

Dari contoh di atas, maka baris pertama yang terdapat pada rejung mempunyai kedudukan sebagai judul dari rejung tersebut.

Ada beberapa fungsi dan kegunaan seni rejung, di antaranya yaitu:
1. Rejung berfungsi sebagai hiburan, khususnya untuk kaum muda-mudi
2. Rejung berfungsi sebagai pelengkap dari tari adat. Dalam hal ini, penyajiannya dilakukan dengan cara dan nada tertentu.
Misalnya: ketika seorang gadis menari, tiba-tiba suara musik pengiring mulai melemah, maka pada saat itu juga sang gadis mulai melanjutkan tariannya dengan rejung. Rejung yang digunakan dapat berupa rejung 14, yaitu:

Mandi angin

Belarislah kuto Mandi Angin
Kuto tegua beghangkai bila
Dayang serikan di berugo
Nyudoka tenun salah ragi
Di beringin
Pesan bereba di beringin
Rawa percang di keruya
Taun mano bulan kebilo
Mangko lawas terbang tinggi.

Setelah sang gadis selesai membawakan rejung di atas, maka sang pemuda membalas dengan membawakan rejung juga. Rejung yang digunakan dapat berupa rejung 30, yaitu:

Muaro Kedurang

Daun sesepet muaro Kedurang
Makanan anak burung lelanting
Layu ditimpo mato aghi
Kayu aro tumbua di gunung
Burung terbang ke belitia
Manau riang
Galung sesaut manau riang
Tinggi sesangi riang kuning
Puting ndak ngenjam parotiwi
Kalu tungkat kayu merujung
Gudung ndak nyingkau aban putia.

Setelah suara sang pemuda hilang, maka suara musik kembali mengiringi dan tarian dilanjutkan kembali.

3. Rejung berfungsi sebagai ungkapan seseorang dengan maksud tertentu, yang disampaikan secara lisan dan ditujukan kepada orang lain baik itu secara individu maupun secara kelompok. Dalam hal ini, tidak ada pembatasan umur. Dengan kata lain, fungsi ini berlaku untuk semua orang.
Misalnya: ketika seseorang ditunjuk untuk menyampaikan kata sambutan dalam acara pesta pernikahan anaknya. Maka, ketika ia menutup kata sambutannya, ia dapat menggunakan rejung berikut:

Kami ka kayiak

Kali ini kami ka kayiak
Sughang ado nunggu berugo
Selasia kembang di laman
Kembang meniru bungo padi
Kundang ka baliak
Ketiko kundang ka baliak
Mpuak betemu mungkin gi lamo
Tinggalka tinjak di laman
Batan pemabang ati rindu.

4. Rejung juga digunakan sebagai penutup surat

Misalnya: seorang anak mengirimkan surat kepada pamannya. Di dalam surat itu, ia menceritakan tentang kematian ayahnya. Sebelum kematian ayahnya tersebut, saudaranya sudah ada yang meninggal dunia. Maka, Rejung yang digunakan untuk mengakhiri surat itu adalah:

Kuto Bengkulu

Bo laris kuto Bengkulu
Bo gending kuto di Lintang
Giring tebing di Lintang pulo
Tanjung Tapus perang kuagai
Siwar tekebat di tiang garang
Nian aku
Tanduak tepeguak nian aku
Kundang lengit sedaro ilang
Tapak kepingin kengit pulo
Rindu dendam sedang beragai
Terapunglah badan tinggal sughang.

5. Rejung juga sering digunakan dalam upacara adat tradisional, misalnya pada upacara Madu Kulo, Madu Rasan, dan lain sebagainya.

Sama halnya seperti karya sastra lain, rejung memiliki isi dan makna tertentu. Dari makna dan isi tersebut, pendengar/pembaca/penikmat Rejung dapat melihat dan merasakan nilai-nilai yang terkandung dalam rejung tersebut, yang termuat secara utuh di dalam isi Rejung.

Nilai-nilai tersebut antara lain:
1. Nilai Hindonik
Rejung mampu memberikan kesenangan kepada orang lain (individu) atau masyarakat pendengarnya

2. Nilai Artistik
Rejung mampu memperlihatkan kemahiran dan keterampilan seseorang melalui orang yang menyanyikan rejung tersebut. Karena, tidak semua orang mampu menyanyikan dan membuat rejung

3. Nilai Kultural
Rejung memang mengandung hubungan yang mendalam dengan masyarakat pendukungnya atau dengan kata lain disebut sebagai sebuah peradaban kebudayaan.

4. Nilai Etik, Moral dan Religius
Berdasarkan tata cara membawakan rejung, warna dari rejung itu sendiri, bentuk dan isi serta makna yang terkandung dari rejung yang dibaca, maka kita dapat merasakan bahwa di dalam rejung tersebut mengandung ajaran-ajaran etika, moral, dan agama.
Misalnya: adanya pendidikan moral yang terdapat pada rejung di bawah ini:

Menetak atap

Jangan urung menetak atap
Singka di tetak bayang tebu
Ayiak tegenang di perigi
Itiak bedenang tigo ikuak
Bekato mantap
Jangan ading bekato mantap
Kalu ka nesal iluak dulu
Pikirka kudai dalam ati
Injiak sekarang nido iluak.

Di dalam rejung di atas terdapat sebuah nasihat yang melarang seseorang untuk berkata pasti, karena segala sesuatu harus dipirkan dahulu secara matang agar tidak ada penyesalan di kemudian hari.


Contoh Rejung

1. Andun Bejudi

Ke Manak andun bejudi
Minjam tukul minjam landasan
Minjam pulo rinti dan taji
Tanjak unak muaro ngalam
Kebaro sampai ke Bengkulu
Ko sosini
Kami lasampai ko sosini
Minjam dusun minjam lelaman
Minjam tempian jalan mandi
Numpak tunak saghi semalam
Batan pemabang ati rindu

2. Petai Tinggi

Saghang semut di petai tinggi
Sangkan petani telalu rayo
Rayo adak bemudo lagi
Tinggaran burung barau-barau
Batakla midang ke berugo
Beceghai ini
Alangka sedut beceghai ini
Beceghai aso ka lamo
Asoka adak betemu lagi
Ngejut betemu di palak rantau
Aghap diangkan kundang jugo

3. Be Kuto Tinggi

Gedung Agung bekuto tinggi
Gedung bekuto pagar besi
Adak karumpak nga lelanting
Rembun belabua pucuak gunung
Sinaro sampai ke Betungan
Burung tu kini
Kebaro injiak burung tu kini
Kisak di ranting kayu mati
Ngancam di puncak migo kuning
Di situ kia dapat niru agung
Kesian mbak kami la tinggal nian

4. Kuto Bengkulu

Bo laris kuto Bengkulu
Bo gending kuto di Lintang
Giring tebing di Lintang pulo
Tanjung Tapus perang kuagai
Siwar tekebat di tiang garang
Nian aku
Tanduak tepeguak nian aku
Kundang lengit sedaro ilang
Tapak kepingin kengit pulo
Rindu dendam sedang beragai
Terapunglah badan tinggal sughang.

5. Ampai Kela

Keris besalut ampai kela
Basing peraut basing peranggi
Siwar peranggi di Pelimbang
Ambiakka lading kelam pagi
Batan penebang bulua kasau
Sampai kela
Sesautnyo ading sampaikela
Basing sesaut basing sesangi
Adi sesangi marola timbang
Lamun badan sudolah ini
Batan penunggu teluak rantau.

6. Ulu Tebat

Ala ka panjang ulu tebat
Takut nga burung bereba mandi
Burung bereba mandi jugo
Bedepas memancung serai
Umbak gemulung di muaro
Apo buat
Seghai bekundang apo buat
Takut ading beruba ati
Ading beruba ati jugo
Semba begayu pulang awai
Dendam berulang paya sajo

7. Ganjo Selirang

Kain putia ganjo selirang
Selirang menggawing langit-langit
Langit itu nido pati siang
Jung empat belayar duwo
La duwo mangko belabuh
Luakka ilang
Ruponyo ilang luak ka ilang
Kimbang loliwa luak ka lengit
Ini ado pesan kemambang
Gayu selamat kundang urang
Empuak melayang jangan jaua

8. Bayar Sulit

Be umo di rena bayur sulit
Padi adiak jadi mangko masak
Bulia merusak tetanaman
Ngulang betanam dimak lagi
Pasar bengkulu lelayuan
Ado dikit
Ku seding nian adolah dikit
Bekundang ndiak jadi jadi kato banyak
Bulia merusakka usuran
Ngulang bekawan dimak lagi
Pasang mbak dulu la maluan

9. Rajo Ayam

Kukuak songiyang rajo ayam
Ingunan anak bujang penganjur
Batak la nganjur ke maro rupit
Kebun bungo di tengah padang
Kembang serumpun bungo padi
Kepado malam
Pesan siang kepado malam
Mpuak banyak bintang temabur
Najin ndo cayo di langit
Amburka jugo kunang-kunang
Batan peduman dalam ati

10. Dahan Kandis

Ala ka julai dahano kandis
Julai di tengah sampai ujung
Mpuak pulo di pucuak gudung
Ambiak serian taro bela
Rapat nga besi dalam gedung
Burung andis
Pesan perajo burung andis
Suaro kemambang burung tiung
Rawa kenidai pucuak gunung
Kalu belum betunggu bereba
Galung sesaut burung tiung

11. Jalak Nian

Ayamku ado jalak nian
Ayam serawa di tambangan
Jalak ado dalam kurungan
Putia tali mengambur jaua
Kini ngulang kutambang pulo
Banyak nian
Penano ku ini banyak nian
So rawa duwo gingganan
Ketigo pulo raso ka ilang
Kiro la iluak jangko belabua
Kini la ngulang kemambang pulo

12. Andun Menyabung

Ke manak andun menyabung
Ke musi mengilir taji
Singga bebulang di kedurang
Nguculka ayam ayam di belitia
Di dalam rejung
Sudo ku antak di dalam rejung
Udim kupaju dalam rengit nyanyi
Kalu bungo suko dikarang
Kapas ndak nyadi benang putia

13. Rantau Panjang

Jangan di mandi rantau panjang
Mandi di ulak lubuak puding
Puding belariak berang ini
Lariak o sampai berang sano
Luluak sayang
Upoyo bae luluak sayang
Kimbango bae luluak seding
Amo sayang ngapo luak ini
Ranting kecambang ndiak beguno

14. Mandi Angin

Belarislah kuto Mandi Angin
Kuto tegua beghangkai bila
Dayang serikan di berugo
Nyudoka tenun salah ragi
Di beringin
Pesan bereba di beringin
Rawa percang di keruya
Taun mano bulan kebilo
Mangko lawas terbang tinggi.

15. Kayu Bilut

Rejung siapo kayu bilut
Pata tigo lekam kemudi
Anak kemendur rasan jual
Anak Belando kintang dagang
Siapo luput
Tambang ayam siapo luput
Najin luput mengundang tali
Ndak dianjur kalu gawal
Larangan sutan di Pelimbang



*Sumber : http://zilent4.blogdetik.com

Sayangnya sekarang ini dah gak ada lagi yang melantunkan rejung, saya masih ingat waktu masih SMP klu tak salah, rejung dilantunkan di acara pernikahan saudara sepupu jauh... kini orang lebih suka dengan Organ Tunggal dibandingkan dengan bedindang, rejung dan tarian tradisional ...
So sad....

Share

0 komentar:

Ikuuuut yuuuuks ........