Saturday, October 18, 2008

Nenek Tua Penggugah Jiwa

Sejak hari kerja mulai aktif lagi, saya tidak melihatnya, biasanya kami bertemu di dalam bus, kebetulan yang tidak sengaja karena mungkin jadwal pergi kerjanya sama yaitu jam 08.30 pagi atau mungkin saya menyadari keberadaan beliau baru 2 minggu terakhir sebelum Hari Raya . Saya sepertinya sudah terkena gaya metropolis yang sok cuek dengan keadaan sekeliling, tanpa peduli dengan ada apa gerangan dan siapa disamping saya yang duduk . Sebetulnya saya tahu dia juga naik Bus yang jurusannya sama dengan saya dan selalu naik dari depan Kantor BPK, tapi ruang hati terdalam saya belum tersadar pada realita yang ada disekitar.
Pada hari itu saya sangat – sangat malas untuk pergi kekantor (kecuali kalo bukan ada SMS kalo saya dapat arisan), sebelum pergi ke kantor saya mampir dulu kekantor saya yang dulu untukmengambil uang arisan itu. Alhamdulillah, lumayan buat Lebaran , ucapan pertama yang keluar sewaktu menerima uang tersebut. Pada hari itu Allah telah menyadarkan kembali diri saya tentang keberadaan dan siapa diri saya lewat seorang nenek tua. Seorang nenek yang sering satu Bus dengan saya, yang hanya saya pandang sekilas ketika dia naik ke dalam Bus. Hari itu, saya duduk didekat pintu, jadi pada saat si nenek naik, dia melemparkan senyum kepada saya dan tiba – tiba dia seperti terjatuh, dan reflek tangan saya memegang beliau dan ternyata demi untuk mengambil botol bekas air mineral beliau tidak mempedulikan keselamatannya. Mungkin bagi orang – orang lain pasti mempertanyakan kok lebih mementingkan botol bekas daripada keselamatan, tapi bagi nenek itu botol bekas itu dapat menambah penghasilan nya, karena beliau seorang pemulung. Saya baru sadar kalo setiap bertemu nenek itu selalu memakai baju, kain dan kerudung yang sama. Sepertinya hari itu sisi kemanusiaan saya dibangunkan kembali. Dalam hati saya mempertanyakan dimana keluarga sang nenek kenapa diusia yang sudah senja (perkiraan mungkin sudah 70 th) membiarkan sang nenek bersama sebuah keranjang rotan yang sudah rapuh dengan langkah yang terseok – seok menajdi pemulung.
Usia nenek itu sama dengan usia nenek saya. Hati saya seperti tersayat – sayat sembilu ketika beliau mengeluarkan dua lembar uang ribuan yang sudah kumal dan sekeping logam 500 rupiah dari kantong plastic yang juga sudah lusuh. Sepertinya beliau menyadari kao saya melihat ke arahnya, sang nenek tersenyum. Saya jadi gak enak hati waktu kepergok sama si nenek karena ketauan ngeliatin beliau.
Pada saat itu tiba – tiba saya ingat dengan amplop yang saya terima, kemudian saya buka, saya ambil satu lembar kemudian diberikan ke si nenek.
“ Uang buat apa?” Tanya si nenek
Saya jadi bingung juga jawabnya apa
“ ehm anggap aja saya ada rezeki lebih dan mau berbagi sama nenek” jawab saya yang masih bingung
“ Terima kasih cu, semoga rejekinya tambah banyak…bla…bla….” ujar si nenek panjang.
Mendengar ucapan si nenek, saya malah tambah gak enak hati, karena saya merasa belum melakukan sesuatu yang Super Big buat si nenek. Saya jadi malu malah, karena malu saya siap – siap mau turun dari bus walaupun tujuannya belum nyampe. Sebelum saya turun dari bus , si nenek berulang – ulang mengucapkan terima kasih. Saya mempercepat langkah untuk turun dari bus karena saya merasa saya belum pantas untuk diberi sebuah ucapan terima kasih mengingat kesombongan saya selama ini.
Sampai dikantor terpikir oleh saya kok saya ngasihnya Cuma satu lembar kenapa gak lebih. Emang penyesalan dan kesadaran itu selalu datang belakangan.
Lebih tepatnya saya malu dengan Allah dan diri sendiri, karena selama ini belum merasa bersyukur dengan apa yang telah ALLAH beri dan selalu mengeluh, selalu merasa kurang dengan apa yang ada.
Tetapi beberapa hari ini saya tidak melihat si nenek, kemana gerangan……

Share

0 komentar:

Ikuuuut yuuuuks ........