Friday, February 6, 2009

Masih....... Futur

Setelah berusaha dengan sekuat tenaga berjuang sendirian untuk mengalahkan futur, akhir semalam saya tidak tahan lagi untuk memgeluarkannya. Agar terlepas dari futur ini akhirnya semalam saya curahkan seluruh isi hati saya, kegalauan dan kesedihan saya karena futur ini kepada Murobbi.
Semalam adalah titik kulminasi kegalauan, kecemasan dan kesedihan saya terhadap ibadah selama ini.
Saya curahkan kesedihan terdalam saya karena saya tidak lagi merasakan kenikmatannya sholat, nikmatnya Qiyamul Lail, nikmatnya shaum dan tilawah.
Saya merasakan kehampaan, tidak bisa merasakan arti dari ibadah saya, tidak bisa merasakan nikmatnya airmata ketakutan azab dan kepasrahan kepada ALLAH.
Saya ingin seperti dulu, seperti sebelum saya berada di dunia kerja. Saya ingin seperti dulu merasakan bahagia ketika mendengar suara adzan. Saya ingin seperti dulu seperti ketika dengan bersemangatnya bangun ditengah malam tanpa mengatur alarm jam atau Hape untuk Qiyamul Lail. Saya ingin seperti dulu merasakan kehausan akan tilawah.
Saya bertanya - tanya bisakah saya merasakan kenikmatan ibadah seperti yang pernah saya rasakan.
Saya menangis pilu dihadapan Murobbi, saya ungkapkan ketakutan saya karena futur ini menjadikan saya semakin jauh dari Allah tanpa saya sadari.
Saya takut karena keputusasaan saya menjadikan saya tidak tercontrol dan menjadikan saya selalu futur.
Saya ingin futur ini pergi menjauh dari saya sejauh - jauhnya.
Menurut Murobbi saya, beliau sudah bisa melihat tanda - tanda futur di diri saya dengan selalu datang terlambat ketika Liqo.
Dan menurut Beliau lagi, futur ini banyak dipengaruhi oleh lingkungan saya sehari - hari yang dari pagi sampe sore kadang sampe malam sibuk dengan duniawi, saya hanya melakukan ibadah untuk menggugurkan kewajiban saja.
Saran dari Beliau untuk mengalahkan futur adalah agar saya memperbanyak ibadah sunnah, Qiyamul Lail, Tilawah dan Shaum sunnah. Beliau juga menyarankan saya untuk menambah jam Liqo di Ma'had Al Furqon, memperbanyak membaca buku - buku yang dapat menambah pengetahuan, meluangkan waktu untuk menghadiri majelis - majelis akhwafillah dan mengadakan Rihlah ke kuburan.
Saya cukup terkejut dengan saran yang terakhir, tetapi menurut Beliau dengan rihlah ke kuburan kita bisa merenungi tentang kematian dan merasakan pengawasan ALLAH.
Setelah pembicaraan saya mendapatkan SMS dari Murobbi saya yang isinya

"ALLAH, aku bukanlah seperti sahabat - sahabat Rasulullah yang mencintai-Mu dalam sholat - sholat khusyuknya hingga tak terasa panah tajam tertancap. Tapi, izinkan aku mencintai - Mu dengan serakaat 2 rakaat dalam sholat - sholat sunnahku. Aku mungkin tak bisa seperti Uswahku, yang mencintai-Mu dalam munajat - munajatnya, hingga kakinya bengkak karena nikmatnya ia bermunajat kepada-Mu. Tapi, izinkan aku mencintai-Mu dengan serakaat 2 rakaat dalam Qiyamu Lailku. Aku juga mungkin tak bisa seperti Sayidinah Umar dan sahabat - sahabat Rasulullah yang lain, yang mencintai-Mu dengan memberikan harta mereka di jalan-Mu. Tapi izinkan aku mencintai-Mu dengan seratus dua ratus yang aku berikan pada tangan - tanagn terhulur di pinggir jalan. Izinkan aku mencintai-Mu semampuku ya ALLAH."

Sekarang pun saya masih berjuang melepaskan diri dari Futur.

Share

0 komentar:

Ikuuuut yuuuuks ........